1. Konjen RI Noumea Widyarka Ryananta bersama Ridwan Zainin, penumpang kapal pekerja Indonesia terakhir tahun 1949. (Foto: KJRI Noumea untuk CowasJP).

Rasa haru dan bahagia terpancar dari wajah Ridwan Zainin, Walad dan Soehadi. Mereka saling berpelukan, saling melepas kangen. Tidak hanya sendiri. Mereka didampingi keluarga dan menyatu dengan 500 orang keturunan Jawa yang tengah berkumpul di Noumea, ibukota Kaledonia Baru (New Caledonia).

Begitulah yang terlihat dalam acara Jamuan Sesepuh di Centre Cultural Ko We Kara, Noumea, Minggu (21/2). Acara itu telah mempertemukan kembali warga negara Indonesia, yang pernah bersama-sama naik kapal Biance pada bulan Mei 1949 untuk mengadu nasib jadi orang kontrak di New Caledonia.

Lebih dari 500 orang diaspora Indonesia yang menghadiri Jamuan Sesepuh datang dari berbagai wilayah New Caledonia. Termasuk dari Kone, Provinsi Utara yang berjarak 264 km dan harus menempuh 4 jam perjalanan menuju Noumea.

Bahkan, Marin, keturunan keempat diaspora Indonesia secara khusus terbang dari Pulau Ouvea untuk menyumbang tari Bali. Perhelatan ini merupakan kelanjutan dari peringatan 120 tahun kedatangan orang Jawa ke New Caledonia. Acara yang dipersiapkan hampir selama 1 tahun ini, didukung oleh KJRI Noumea beserta 13 asosiasi masyarakat keturunan Indonesia di New Caledonia.

Di tengah kebahagiaan bertemu kawan-kawan, Ridwan Zainin mengenang betapa menderitanya saat mengawali pekerjaan di pertambangan Chagrin di Provinsi Utara bersama para pekerja dari Indonesia. “Saya hanya bertahan 6 bulan, kemudian lari pindah kerja sebagai buruh kontrak pertambangan nikel di Noumea,” tuturnya.

Di usia menjelang 87 tahun, Ridwan Zainin saat ini menikmati hidup bahagia bersama seorang istri keturunan Jawa kelahiran New Caledonia dan dikaruniai 5 putra, 5 cucu dan 7 cicit.

Walad alias Kasir lahir di Cirebon pada tahun 1929, nekat meninggalkan Indonesia menuju wilayah seberang lautan Prancis ini, dengan harapan dapat mencari penghidupan lebih baik. “Kulo milih dados kuli kontrak tambang nikel wonten Caledonia amargi bade dibayar katah (Saya memilih kerja jadi buruh kontrak tambang Nikel di Caledonia karena dijanjikan gaji besar)” kata Walad. Ternyata kehidupan yang dijalani bersama pekerja dari Indonesia lainnya sangat berat.

Setelah bertahan selama 28 tahun bekerja di pabrik nikel SLN, Walad memutuskan untuk pensiun dan kemudian berjualan sayur, buah-buahan, rengginang dan tempe di pasar Noumea sampai sekarang. Dengan tunjangan pensiun dari SLN sebesar 215.000 CPF atau sekitar 20 juta rupiah, Walad yang mempunyai 5 anak, 10 cucu dan 3 cicit hidup berkecukupan. Selain itu, dengan adanya jaminan sosial dan kesehatan, Walad menerima perawatan rutin dari tenaga medis yang disediakan oleh Pemerintah setempat.

Lain cerita dengan Soehadi, yang dibawa oleh orang tuanya ke New Caledonia pada tahun 1949 saat berusia 3 tahun. Di usia 15 tahun, Soehadi mulai bekerja sebagai sopir kendaraan berat di tambang nikel SLN sampai pensiun. “Saya senang dapat bertemu dengan teman-teman yang sudah puluhan tahun tidak berjumpa. Saya tetap menjadi WNI meski keturunan saya sudah memilih untuk menjadi warga Negara Prancis,” tutur Soehadi.

Mantan Ketua Persatuan Masyarakat Indonesia dan Keturunannya (PMIK) tahun 1984-1998, Marie Jo Siban yang masa kecilnya pernah tinggal di Yogyakarta, bangga bahwa keturunan Indonesia yang lahir di New Caledonia saat ini memimpin seluruh asosiasi masyarakat Indonesia. “Tradisi harus diwariskan. Acara seperti ini hendaknya dapat terus dilestarikan oleh tunas-tunas muda.”

Konjen RI Noumea Widyarka Ryananta menyampaikan harapan agar generasi muda diaspora Indonesia di New Caledonia dapat terus mewarisi budaya leluhur yang baik. “Kami akan mendukung kegiatan asosiasi keturunan Indonesia dalam mempromosikan nilai budaya Indonesia” ujarnya kepada cowasjp.com.

Sejarawan Catherine Adi, keturunan Indonesia yang menulis buku Orang Kontrak, les engages de Java sous contract en Nouvelle-Caledonie de 1896 à 1955 mengatakan, tidak mudah mengungkap sejarah kedatangan orang Jawa, karena mereka enggan mengingat kembali masa sulit yang dialami.  “Mereka ingin mengubur kenangan pahit tersebut dan mengharapkan agar keturunannya dapat berintegrasi dengan baik di New Caledonia, namun tidak melupakan asal usul dan tradisi leluhur dari Jawa,” katanya. (erwan widyarto/www.cowasjp.com)

comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here