Jakarta– Merck dan Perhimpunan Dokter Gizi Medik Indonesia (PDGMI) hari ini meluncurkan sebuah inisiatif bersama kampanye kesadaran publik “Indonesia Bebas Anemia” di Jakarta. Kerjasama ini dijalankan guna meningkatkan kesadaran masyarakat akan gejala dan dampak dari anemia, sehingga setiap lapisan masyarakat di Indonesia mengetahui apa yang harus dilakukan untuk mengatasi risiko anemia.

Kampanye “Indonesia Bebas Anemia” dicanangkan sebagai reaksi terhadap kurangnya pemahaman masyarakat terhadap anemia yang menyebabkan besarnya persentase penderita anemia di Indonesia. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), tahun 2013, proporsi prevalensi anemia di Indonesia sebesar 26,4% anak – anak, 12,4% pada laki – laki usia 13 – 18 tahun; 16,6% pada laki-laki > 15 tahun; 22,7% pada perempuan 13 – 18 tahun; 22,7% persen pada perempuan 15 – 49 tahun dan 37,1% pada ibu hamil.

Tuntutan setiap pekerja untuk lebih produktif dalam pekerjaan dan aktivitas meningkat setiap tahunnya, namun seringkali tanpa asupan gizi yang seimbang yang dikonsumsi setiap hari. Asupan gizi yang baik termasuk asupan zat besi dalam jumlah dan waktu yang tepat sangatlah penting untuk tidak mengurangi produktivitas seseorang.

Dengan gaya hidup masa kini yang dinamis, setiap orang, baik wanita maupun pria, anak–anak maupun dewasa tanpa didukung asupan gizi yang cukup memiliki potensi untuk terkena anemia. Anemia yang kerap kali terjadi adalah Anemia Defisiensi Besi (ADB) yang juga merupakan salah satu penyakit silent killer yang berkontribusi hampir 20 persen dari kematian orang dewasa akibat kekurangan darah karena kurangnya asupan zat besi.[1]

Hal ini juga ditegaskan oleh DR. Dr. Yustina Anie Indriastuti, MSc, SpGK, Wakil Ketua PP-PDGMI dalam paparannya, “Bagi para pekerja yang aktif dengan kesibukannya sehari-hari, baik personal maupun profesional, menjalankan pola hidup yang sehat dengan mempraktekkan pola makan bergizi seimbang menjadi suatu tantangan. Hal ini dapat meningkatkan risiko menderita anemia, yang berdampak pada menurunnya produktivitas serta kurangnya perhatian terhadap keluarga. Perlu diketahui bahwa 35% wanita pekerja Indonesia mengalami penurunan kinerja yang diakibatkan oleh anemia. Penurunan kinerja ini dapat mencapai hingga 20% atau bisa mencapai 6,5 jam per minggu.[2]”

Anie Rachmayani, Associate Director Consumer Health PT Merck Tbk. Indonesia, menuturkan, “Kami memahami bahwa produktivitas kerja, baik bagi pria maupun wanita, dapat terganggu karena penurunan kondisi fisik yang diakibatkan oleh anemia. Kami sudah melakukan kampanye edukasi mengenai anemia sejak beberapa tahun terakhir. Kami bangga kini dapat berkolaborasi dengan PDGMI untuk lebih meningkatkan lagi kesadaran masyarakat akan pentingnya pemahaman mengenai gejala anemia untuk menyukseskan “Indonesia Bebas Anemia.”

Dr. Yustina Anie Indriastuti, MSc, SpGK, Wakil Ketua PP-PDGMI juga menjelaskan ,”Gejala anemia yang pada umumnya dirasakan oleh penderita antara lain merasa pusing, mudah lelah dan sulit berkonsentrasi. Pengaturan pola hidup sehat diperlukan guna mengatasi anemia. Apabila tidak ditindaklanjuti akan membawa kepada kondisi anemia yang berkepanjangan dan lebih berbahaya nantinya,” lanjut DR. Dr. Yustina Anie.

Pada kesempatan yang sama Mona Ratuliu, Ibu Bekerja, juga menjelaskan,”Seorang wanita yang aktif bekerja dan memiliki keluarga dengan begitu banyak kegiatan haruslah senantiasa memperhatikan kondisi fisik setiap harinya. Saya mengerti bahwa wanita aktif sangat rentan terhadap berbagai penyakit, terutama anemia. Oleh karena itu cara yang saya lakukan untuk mencegah gejala-gejala anemia adalah dengan mengkonsumsi makanan bernutrisi, memiliki suplemen zat besi dan sudah tentu menjalankan hidup sehat.”

“Upaya dalam mencegah anemia terkadang memang tidak mudah, namun dapat dilakukan dan tercapai dengan baik apabila adanya komitmen dari diri sendiri serta dukungan seluruh pihak terutama keluarga agar keharmonisan di dalam keluarga dan juga di dunia pekerjaan dapat terus terjaga. Atas dasar inilah saya ingin turut berpartisipasi dalam kampanye kesadaran publik “Indonesia Bebas Anemia” ini,” tutur Mona.

Selain peluncuran resmi  kampanye kesadaran publik “Indonesia Bebas Anemia” ini, Merck juga melakukan inisiatif-inisiatif lainnya seperti kampanye digital yang mengajak masyarakat untuk berpartisipasi dalam meningkatkan kesadaran anemia melalui ribuan hashtag dimana kota-kota besar yang berhasil mengumpulkan hashtag terbanyak akan dikunjungi oleh booth kesehatan gratis “Tanya Anemia center” dimana para pengunjung dapat memperoleh edukasi mengenai anemia dan melakukan screening test dengan menggunakan “Anemiameter”.

“Melalui kesempatan ini juga kami ingin menyampaikan bahwa kampanye Indonesia Bebas Anemia ini turut bekerjasama dengan dengan mitra-mitra terkait yang peduli akan pentingnya pengetahuan tentang anemia. Tak hanya itu, kami juga melakukan pembagian gelang solidaritas anemia kepada para konsumen yang turut berperan serta sebagai sukarelawan dalam pengentasan anemia di Indonesia. Mari kita bersama-sama menyukseskan Indonesia Bebas Anemia”, tutup Anie Rachmayani. (rilis)

comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here