Komisi III DPRD Kota Cirebon mendatangi sejumlah SMPN di Kota Cirebon Senin (23/7).

CIREBONBAGUS.COM- Penerapan sistem zonasi pada Penerimaan peserta didik baru (PPDB) 2018 memunculkan banyak persoalan baru.

Demikian terungkap ketika Komisi III DPRD Kota Cirebon mendatangi sejumlah SMPN di Kota Cirebon Senin (23/7). Selain tekanan kepada sekolah semakin tinggi, pihak yang menekan juga bertambah banyak.

Di sisi lain, saat ini ratusan siswa lulusan Sekolah Dasar (SD) di Kota Cirebon belum mendapatkan sekolah. Mereka terlempar dari SMPN yang masih masuk zonasi tempat tinggalnya.

“Kami mendatangi beberapa sekolah untuk mengetahui secara pasti keadaan sebenarnya. Apalagi hingga sekarang masih banyak siswa yang tidak masuk sekolah gara-gara persoalan zonasi,” ungkap Ketua Komisi III DPRD Kota Cirebon Doddy Ariyanto, Senin (23/7).

Dodi menambahkan dalam kunjungan mereka berharap sejumlah sekolah bisa menambah rombongan belajar, agar bisa menampung ratusan siswa lulusan Sekolah Dasar (SD) yang belum mendapatkan sekolah. Ratusan siswa itu terlempar dari SMPN yang masih masuk zonasi tempat tinggalnya.

Diakui Doddy, dari enam SMPN yang didatangi hanya satu sekolah yang masih memungkinkan untuk menambah rombel. SMPN tersebut juga belum tentu menerapkan karena harus konsultasi dulu ke Kadisdik.

Bahkan ada empat orang tua yang nekat menyuruh anaknya tetap mengikuti masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS), meski anaknya tidak terdaftar di SMPN 5. Selama sepekan keempat siswa tersebut mengikuti kegiatan MPLS. Pihak sekolah mengaku hanya bisa membiarkan keempat anak tersebut  mengikuti kegiatan MPLS. Tidak berhasil menekan pihak sekolah, orang tua pun menyampaikan aspirasinya ke dewan.

Menurut anggota Komisi III Jafarudin, dewan hanya memperjuangkan siswa untuk masuk sekolah yang sesuai dengan zonasinya.

“Kalau tidak sesuai zonasi ya kami tidak mungkin memperjuangkan, “ katanya.

Sementara itu terkait dengan aksi nekatnya orang tua yang memaksa anaknya mengikuti MPLS meski tidak terdaftar sebagai siswa SMPN 5, Kepala Sekolah SMPN 5 Kanti Rahayu mengakui, pihaknya sampai kebingungan menghadapi aksi itu.

Menurut Kanti, satu sisi dia tidak ingin menyakiti hati anak atau merusak harga diri anak, namun dia juga tidak mau merusak aturan.

“Makanya saya tidak mau menanyakan alasan si anak untuk mengikuti MPLS. Saya hanya minta kepada keempat anak itu agar orang tuanya datang ke sekolah Senin hari ini (kemarin, red.). Namun sampai sekarang orang tuanya belum datang, “ katanya.

Diakuinya, sistem zonasi yang diterapkan saat ini memunculkan banyak persoalan. “Setiap hari kami harus menghadapi orang tua maupun anggota LSM yang ingin memasukan anaknya, meski kami tegaskan sudah gak bisa menerima siswa lagi, “ katanya.  (CB01)

comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here